Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

10 KEUNTUNGAN PENCARI ILMU

Rasulullah Saw bersabda:
 َطلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلى كُلِّ مُسْلِمٍ
Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimat. Dan kewajiban mencarinya tidak ada batasnya. Selama nyawa masih dikandung badan, selama nafas masih mendesah, selama jantung masih berdetak, selama darah masih mengalir, kewajiban mencarinya belum berhenti. Baginda Rasul menyuruh ummatnya: 
"أُطْلُبِ اْلعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلى الَّلحْدِ"
Artinya: “Carilah ilmu dari mulai buaian sampai ke liang lahad”
Agar kita termotivasi dalam mencari ilmu, maka kita harus tahu dulu keuntungan apa yang akan kita dapatkan. Sebab, biasanya orang akan mau berbuat apabila akan mendapatkan sesuatu dari apa yang diperbuatnya. Berikut ini akan penulis uraikan 10 keuntungan pencari ilmu.
Pertama, senantiasa berada pada taman surga. Rasulullah Saw pernah bersabda dihadapan para sahabatnya: “Wahai para sahabatku! Apabila anda semua melihat taman surga di dunia, maka mampirlah. Salah seorang sahabat rasul bertanya: “Ya Rasululallah!, apakah ada taman surga di dunia?” Rasul menjawab: “ada, yaitu majelis ta’lim”.
Jadi... wahai saudaraku... hadirilah selalu majelis taklim, diundang ataupun tidak diundang, karena ia adalah  ,"رَوْضَةُ مِنَ رِيَاضِ اْلجَنَّةِ"taman dari pada taman-taman surga.
Kedua, Dimudahkan menuju jalan ke surga. Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ عِلْمًا سَهَّلَ الله ُطَرِيَْقهُ اِلىَ الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju surga”.

Ketiga, Pencari ilmu diibaratkan sedang mencarai surga. Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu berkata:
مَنْ كَانَتْ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَتْ اَلْجَنَّةُ فِى طَلَبِهِ وَمَنْ كَانَتْ فِى طَلَبِ الْمَعْصِيَّةِ كَانَتْ َالنَّارُ فِى طَلَبِهِ
Artinya: “Barang siapa mencari ilmu, berarti ia sedang mencari surga, dan barang siapa mencari kemaksiatan, berarti ia sedang mencari neraka”

Keempat, Allah akan mengangkat beberapa derajat kepada orang yang berilmu[1]. Allah Swt berfirman dalam surat al-Mujadalah:11

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Kelima, Mendapatkan kebahagiaan hidup. Ada ungkapan bagus dari orang bijak: “Dengan iman hidup jadi terarah, dengan seni hidup jadi indah, dan dengan ilmu hidup jadi bahagia”. Sejalan dengan ungkapan di atas, 14 abad yang silam Nabi kita pernah berpesan:
 من ارادالدنيا فعليه باالعلم ومن اراد الأخرة فعليه باالعلم ومن ارادهما فعليه باالعلم  

Artinya: “Barang siapa menginginkan kebahagiaan hidup di dunia, maka ia harus memiliki ilmu, barang siapa menginginkan kebahagiaan hidup di akherat, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa menginginkan kebahagiaan hidup keduanya, maka ia harus memiliki ilmu”.

Keenam, akan mendapatkan dua kemuliaan, yaitu kemulian dunia dan akherat. Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
"عِزُّالدُّ نْيَا بِالْمَالِ وَعِزُّالآخِرَةِ بِصَالِحِ اْلأعْمَالِ"
Artinya: “Kemuliaan dunia bisa diraih dengan harta, dan kemuliaan akhirat hanya bisa diraih dengan amal shaleh”.

Untuk memperoleh harta yang banyak  dan bisa beramal shaleh, agar mendapat kemuliaan, kuncinya adalah ilmu, tanpa ilmu imposible kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan.
Ibnu Abbas r.a berkata: “Nabi Sulaiman bin Daud ‘Alaihimas Salam, disuruh oleh Allah Swt untuk memilih ilmu, harta, dan kerajaan. Lalu Nabi Sulaiman memilih ilmu, maka mengikutlah harta dan kerajaan itu.
Ketujuh, Allah akan memberi pahala 72 orang shiddiq pada hari kiamat. Abu Umamah r.a. berkata: “Tiap orang yang tumbuh dalam menuntut ilmu dan ibadat hingga besar (tua), maka Allah akan memberinya pahala tujuh puluh dua orang siddiq pada hari kiamat” (H.R. Aththabarani).
Kedelapan, Pahala mencari ilmu lebih baik dari shalat malam dan puasa. Rasulullah Saw bersabda:
َطلَبُ الْعِلْمِ سَاعَةً خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ وَ طَلَبُ الْعِلْمِ يَوْمًا خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ ثَلاثةِ أشْهُرٍ (رَواه ألَّديْلَمِى عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ)

Artinya: “Menuntut ilmu satu jam lebih baik dari bangun ibadat satu malam, dan menuntut ilmu sehari lebih baik dari pada puasa tiga bulan” (H.R. Addailami dari Ibnu Abbas).

Kesembilan, Penebus dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةٌ لِمَا مَضَى (رواه الترمذى)

Artinya: “Barang siapa yang menuntut ilmu, maka menjadi penebus dosa-dosa yang telah lalu” (H.R. Attirmidzi darti Sakh Barah).

Kesepuluh, Diampuni dosanya. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ اِنْتَقَلَ لِيَتَعَلَّمَ عِلْمًا غُفِرَ لَهُ قَبْلَ أَنْ يَخْطُوَ (رواه الشيرازي عن عائشة)

Artinya: “Barang siapa yang pindah untuk belajar ilmu, maka akan diampuni dosanya sebelum melangkahkan kaki” (H.R. Asysyairozi dari Sayyidah A’isyah).

Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa, para malaikat, ikan-ikan yang ada di laut, semut-semut yang ada dilubangnya memohonkan ampunan kepada orang-orang yang sedang menuntut ilmu. Juga diceritakan dalam riwayat yang lain bahwa para Malaikat menaungi dengan sayap-sayapnya kepada orang-orang yang sedang mencari ilmu.






[1] Orang berilmu, karena ia rajin mencari ilmu. Suatu hal yang mustahil sesseorang akan mendapatkan ilmu, kalau ilmu itu tidak dicarinya.

Rabu, 10 Agustus 2011

Agar Puasa Tidak Sia-sia

Agar Puasa tak Sia-sia

        “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairih)
         Ibadah puasa bertujuan membentuk manusia beriman agar bertaqwa. Itulah pesan yang terdapat dalam Al Qur ‘an, surat Al Baqarah ayat 183 yang menjadi landasan hukum wajibnya berpuasa bagi umat Islam pada setiap datangnya bulan Ramadhan.
Potensi ibadah puasa untuk mengantarkan kita menjadi manusia-manusia taqwa sangat mungkin dan terbuka luas. Tidak saja diriset dari keagungan bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an, dilaksanakannya puasa pada siang hari, dan terdapatnya “lailatul Qadri” yaitu malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. Akan tetapi lebih dari itu, salah satu sebabnya karena ibadah puasa memiliki amunisi energi positif yang dahsyat menempatkan posisi ibadah puasa sebagai ibadah teknis sosial sangat pribadi atau personal.
         Berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain, sebut saja contohnya ibadah shalat lima waktu yang mudah tampak oleh setiap mata, puasa tidak demikian. Seorang yang melaksanakan shalat atau tidak shalat mudah kita ketahui, tidak membayar zakat dapat kelihatan apalagi ibadah haji lebih mudah untuk rnengetahuinya. Karena ibadah haji adalah ibadah massal yang sangat bersifat demonstrative.
         Demikian juga mudah mengukur dari sisi pelaksanaannya, orang akan katakan shalatnya khusyu’ dan bagus karena dilihat dari gaya ia melaksanakan shalat dengan sempurna. Orang akan mengatakan sungguh hebat dan berani, karena ketika membayar zakat dalam jumlah yang terlihat cukup banyak. Orang akan mengatakan hajinya mabrur, karena terlihat saat kembali dari haji perilakunya berubah drastis alias taubat.
Berbeda dengan amalan PUASA/SHIAM. Ini seolah-seolah menjadi rahasia manusia dengan Tuhan-Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi dijelaskan: “Setiap amal anak Adam bagi dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang menanggung pahalanya.“  (HR.Bukhari)
Maka agar puasa yang kita lakukan tetap bernilai dan jauh dari kesia-siaan. Kita perlu kenali apa saja penyebabnya dan triknya, diantaranya adalah :

1. Tundukkan pandangan.
         Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram.
Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus:
“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latha’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)
         Dengan menundukkan pandangan, mata akan terjaga dari segala hal yang tidak halal dilihat. Segala yang haram itu berpotensi melalaikan hati dari dzikrullah. Ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Pandangan adalah salah satu anak panah beracun di antara anak panah Iblis, semoga Allah melaknatinya. Barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah memberinya keimanan yang merupakan kelezatan dalam hatinya.” (HR.Hakim)

2. Jaga lisan dari perkataan yang tidak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
        Seperti berdusta, ghibah, bergunjing, memaki, bertengkar, banyak bersenda gurau, berdebat, serta segala hal yang mengundang kebencian dan permusuhan. Kendalikan lisan dengan diam dan lebih utama bila lisan disibukkan dengan dzikrullah serta tilawah Qur’an.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya puasa adalah perisai. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa maka jangan berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada seseorang menyerang atau mencaci, katakanlah “sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.”
Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

3. Jaga telinga dari perkataan dan pembicaraan yang dibenci Allah.
       Setiap yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kedudukan orang yang suka mendengarkan berita bohong sama dengan orang yang memakan barang haram. “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong. Banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah: 42)
Dalam ayat lain: “Mengapa orang-orang ‘alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?” (QS. Al-Maidah: 63)
Mendiamkan ghibah juga dilarang. Allah berfirman, “Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An-Nisa:140)

4. Tahan setiap anggota tubuh dari berbuat dosa.
Hindari tangan, kaki, dan semua panca indera lainnya dari hal-hal yang diharamkan, walaupun telah berbuka. Tak ada artinya sepanjang hari menahan diri dari makanan yang halal, namun setelah berbuka melakukan hal-hal yang dibenci bahkan diharamkan. Orang seperti inilah yang disinggung Rasululkah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Nasai dan Ibnu Majah)

5. Jangan makan berlebih-lebihan ketika berbuka.
         Sebab seburuk-buruknya wadah adalah perut yang penuh makanan. Tujuan puasa adalah menundukkan hawa nafsu untuk memperkuat jiwa mencapai taqwa. Bila dari pagi hingga sore perut dikosongkan, tapi kemudian dipenuhi berbagai makanan lezat saat berbuka, maka syahwat akan bangkit. Ia bisa kehilangan esensi dan hikmah puasa. Puasa yang bertujuan melemahkan berbagai kekuatan yang menjadi sarang setan, jadi sia-sia. Karena syahwat menguat dan setan kembali menghembuskan rayuannya agar berbuat kejahatan.
Salah satu adab puasa yang sering dilupakan adalah mengurangi tidur siang. Padahal dengan tetap aktif di siang hari, kita bisa merasakan lapar, dahaga, dan lemahnya kekuatan. Sehingga hati menjadi jernih, lembut dan timbul empati terhadap penderitaan orang. Dari situ juga seseorang mendapatkan semangat dan kekuatan untuk bangun di malam hari, qiyamul lail dan tadarrus dan melakukan ibadah lainnya.

6. Penuhilah hati dengan perasaan ‘tergantung” dan “terguncang” antara cemas dan harap.
        Sebab tak ada yang tahu apakah puasa kita diterima dan termasuk golongan muqarrabin, atau ditolak sehingga termasuk orang-orang yang dimurkai?
Ada satu riwayat dari Hasan bin Abul Hasan Bashri. Suatu hari ia melewati suatu kaum yang tengah tertawa. Melihat itu ia berkata, “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena perlombaan melakukan keta’atan bagi makhluk-Nya. Kemudian ada orang yang berlomba hingga menang dan ada pula yang tertinggal lalu kecewa. Tetapi yang sangat mengherankan ialah pemain yang tertawa di saat orang-orang berpacu meraih kemenangan.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa adalah amanah maka hendaklah salah seorang di antara kamu menjaga amanahnya.” (HR. Al-Kharaithi dan Sanadnya Hasan)
Semoga seluruh amalan ibadah kita diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjauhkan kita dari segala perbuatan yang merusaknya. Amin

Disusun dari berbagai sumber

Kamis, 07 Juli 2011

Semua Orang Adalah Pemimpin

         Ribuan orang mengharap diri mereka menjadi pemimpin, dan seringkali tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka adalah pemimpin bagi diri mereka sendiri. Saat seorang anak menjadi ketua kelas maka ia adalah pemimpin. Ketua RT juga pemimpin, guru SD adalah pemimpin bagi muridnya, bahkan seorang ibu pun adalah pemimpin bagi anaknya. Hampir setiap orang menjadi pemimpin di lingkungannya masing-masing. Terlepas dari besar kecilnya jumlah orang dalam kelompok tersebut. Meski hanya satu orang saja pengikutnya, maka ia masih dikatakan sebagai seorang pemimpin. Bahkan manusia sendiri pun harus mampu memimpin dirinya sendiri.

         Ketidaksadaran inilah yang acapkali mengakibatkan orang tidak mau mengembangkan kepemimpinannya. Jargon-jargon seperti: “saya ini rakyat kecil,” atau “ saya ini tidak punya keahlian apa-apa”, sesungguhnya sangatlah mengerdilkan diri. Betapa tidak seorang tukang penjual air akar pun adalah seorang pemimpin yang hebat bagi keluarganya di rumah. Apalagi bila ia mampu menciptakan serta menghidupkan kebesaran jiwa di kalbu anak-anaknya. Tidak ada istilah orang kecil, semua sama di mata Tuhan. Setiap manusia adalah khilafah Allah di muka. Ini ditegaskan oleh Allah sebagai berikut:

Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat
“aku hendak jadikan khalifah di muka bumi...”


QS Al Baqarah (Sapi Betina) 2:30


*disusun dr berbagai sumber